TEMPEMATE, Inovasi IoT Universitas Telkom Purwokerto untuk Tingkatkan Efisiensi Produksi Tempe di Desa Pliken

Uncategorized

BANYUMAS – Tim Universitas Telkom Kampus Purwokerto mengembangkan inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu meningkatkan efisiensi dan konsistensi produksi tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas.

Inovasi tersebut diberi nama TEMPEMATE (Smart IoT-Based Fermentation System). Sistem ini dirancang untuk membantu pengrajin mengontrol suhu dan kelembapan selama proses fermentasi tempe secara otomatis dan real-time.

Desa Pliken merupakan salah satu sentra industri tempe di Kabupaten Banyumas. Industri tempe menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat setempat. Berdasarkan hasil observasi tim, proses fermentasi yang dilakukan pengrajin masih banyak bergantung pada kondisi lingkungan dan pengalaman pengrajin.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan kualitas tempe tidak selalu konsisten. Waktu fermentasi juga relatif panjang, yakni sekitar tiga hingga empat hari, serta dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

Melalui TEMPEMATE, tim mengembangkan sistem yang mengintegrasikan sensor, mikrokontroler, serta aktuator berupa heater dan kipas. Sistem tersebut dirancang untuk menjaga kondisi fermentasi pada parameter yang telah ditentukan sehingga proses dapat berlangsung lebih stabil dan terukur.

Ketua tim inovasi, Muhammad Hilmiy Nastama, bersama anggota Dinda Natasya Artaviana dan Agus Setiyawan, mengembangkan inovasi tersebut dengan pendampingan Novanda Alim Setya Nugraha, S.S., M.Hum. Kegiatan ini melibatkan mitra pengrajin tempe di Desa Pliken sebagai lokasi implementasi dan uji coba inovasi.

Pengembangan TEMPEMATE menggunakan pendekatan Research and Development (R&D). Tahapannya meliputi analisis kebutuhan dan studi lapangan, perancangan sistem, pembuatan prototype, pengujian dan kalibrasi, implementasi pada mitra, serta evaluasi dan penyempurnaan sistem.

Dalam pelaksanaannya, mitra tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Pengrajin juga terlibat dalam memberikan data produksi, mengikuti proses uji coba, serta memberikan evaluasi terhadap kemudahan penggunaan dan efektivitas alat.

Sistem TEMPEMATE ditargetkan mampu menjaga suhu fermentasi pada rentang 30 hingga 35 derajat Celsius, mempertahankan kelembapan secara stabil, serta menjalankan proses kontrol secara otomatis. Dari sisi produksi, inovasi ini diharapkan dapat mempercepat fermentasi dan meningkatkan konsistensi kualitas tempe.

Selain meningkatkan efisiensi produksi, penerapan TEMPEMATE juga diarahkan untuk mendukung transformasi digital pada industri tempe skala UMKM. Teknologi ini dirancang dengan konsep sederhana, terjangkau, dan mudah digunakan sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengrajin.

Tim menargetkan sejumlah luaran dari pengembangan inovasi ini, antara lain prototype TEMPEMATE, draft HKI berupa paten sederhana, video demonstrasi produk, manual penggunaan, serta berita acara serah terima alat kepada mitra.

Bagi pengrajin, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat mempermudah pengendalian proses fermentasi, meningkatkan konsistensi kualitas produk, dan mempercepat waktu produksi. Sementara bagi masyarakat, peningkatan stabilitas produksi diharapkan turut mendukung ketersediaan tempe sebagai salah satu sumber protein nabati.

Pengembangan TEMPEMATE juga menjadi bagian dari roadmap inovasi jangka panjang. Setelah pengembangan prototype dan uji coba awal pada 2026, sistem akan disempurnakan berdasarkan hasil uji lapangan, kemudian diarahkan untuk direplikasi pada pengrajin lain di Desa Pliken hingga menuju pengembangan model bisnis dan komersialisasi.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM, TEMPEMATE diharapkan menjadi salah satu bentuk penerapan teknologi tepat guna yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat sekaligus mendorong peningkatan produktivitas industri tempe di Desa Pliken.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *