Desa Bawang Batang Didampingi FK Deswita Jateng Mulai Susun Wisata Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal

Uncategorized

BATANG – Pengembangan desa wisata tidak selalu harus dimulai dengan membangun destinasi baru. Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, justru memilih menggali kekuatan yang telah tumbuh di tengah masyarakat sebagai fondasi pengembangan pariwisata desa.

Beragam potensi lokal mulai dipetakan, mulai dari produk UMKM, wisata religi, kekayaan alam, aktivitas masyarakat, hingga keterampilan warga yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Potensi tersebut selanjutnya diarahkan agar dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang memiliki ciri khas Desa Bawang.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai pelengkap kegiatan wisata, tetapi sebagai pelaku utama. Warga diharapkan memperoleh manfaat langsung dari aktivitas pariwisata melalui pengembangan produk, jasa, kepemanduan, kuliner, kerajinan, maupun paket perjalanan berbasis kehidupan lokal.

Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Jawa Tengah, Aris Widianto, menegaskan bahwa pengembangan Desa Wisata Bawang membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.

“Fokus kami adalah bagaimana semua unsur masyarakat bisa tergabung dalam satu program desa wisata,” kata Aris Widianto, Kamis, 13 Agustus 2026.

Konsep tersebut menjadi penting karena kekuatan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh keberadaan objek yang menarik secara visual. Keberlanjutan pariwisata justru sangat bergantung pada kemampuan masyarakat mengelola potensi, membangun cerita, memberikan pelayanan, serta menciptakan aktivitas yang membuat wisatawan memperoleh pengalaman berbeda.

Anak-anak muda desa memiliki peluang besar mengambil peran dalam proses tersebut. Mereka dapat terlibat dalam promosi digital, dokumentasi, pembuatan konten, kepemanduan, hingga pengemasan cerita tentang sejarah, tradisi dan keunikan Desa Bawang.

Di sisi lain, kelompok perempuan dan pelaku UMKM dapat memperkuat sektor kuliner, produk olahan, kerajinan, serta oleh-oleh khas desa. Ketika berbagai unsur tersebut terhubung dalam satu ekosistem, kunjungan wisatawan tidak hanya menghasilkan aktivitas wisata, tetapi juga membuka perputaran ekonomi di tingkat masyarakat.

Pengembangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi modal utama sebuah desa untuk membangun identitas pariwisata. Produk yang sebelumnya hanya dikonsumsi warga, aktivitas keseharian yang dianggap biasa, maupun lokasi yang belum banyak dikenal dapat memiliki nilai wisata ketika dikemas secara tepat.

Desa Bawang kini memiliki tantangan untuk menyatukan berbagai potensi tersebut ke dalam paket wisata yang terstruktur. Penguatan sumber daya manusia, kolaborasi antarpelaku, penataan destinasi, serta promosi yang konsisten menjadi bagian penting agar desa tidak sekadar dikenal, tetapi mampu memberikan pengalaman yang berkesan kepada pengunjung.

Dengan arah tersebut, Desa Bawang tidak perlu mengejar popularitas secara instan. Fondasi yang lebih penting adalah membangun desa wisata dari kekuatan masyarakatnya sendiri, sehingga pariwisata tumbuh bersama warga dan memberikan manfaat ekonomi, sosial, serta budaya secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *